Selasa, 24 Juni 2014

Brand Identity Bukan Hanya Visual Yang Tampil Keren

Jika kita memperhatikan gambar diatas pasti ada yang bergumam 'wuiiihhh Pak Jokowi berfoto di railbus Batara Kresna’,  ada juga berkata dalam hati ‘wah Solo keren ya punya railbus’. Tapi ada sebagian orang yang lain justru memelototi logo yang nempel di body railbus dan berkata ‘lho kok ikon logo Solo diganti merah, harusnya kan hijau, wah nggak konsisten nih’.  Hmmm...cuplikan diatas hanya sebagai prolog dari artikel yang saya tulis kali ini yaitu tentang brand identity.

Sebagian orang pasti sepakat bahwa brand identity tidak akan pernah lepas dari yang namanya brand name dan logo. Atau kalau untuk kasus consumer/product branding tidak akan pernah meninggalkan yang namanya packaging. Tapi disini saya tidak akan membahas tentang teori brand name, logo dan packaging karena saya pikir sebagian dari Anda sudah paham betul tentang ketiganya. Misalnya, brand name sebaiknya yang unik dan mampu memaknai benak konsumen, logo seharusnya merupakan representasi dan penggambaran visi perusahaan, sedangkan packaging selain harus memiliki desain yang ergonomis, eye catching juga dituntut mampu berperan sebagai silent salesman untuk membantu ketika kita sibuk belanja di arena point of purchase. Lepas dari nama merek yang sudah kita tentukan, desain logo atau packaging yang kita desain dengan sangat ciamik, sebenarnya brand identity tidak hanya berhenti di ikon visual. Di dalam dunia branding, brand identity tidak hanya bersentuhan dengan indera penglihatan tapi juga menyentuh indera pendengar, penciuman dan perasa.

Misalnya, pada saat kita memejamkan mata dan mendengar raungan mesin Harley Davidson, secara langsung kita pasti mampu mengidentifikasi brand tersebut. Brand identity dalam bentuk suara juga dapat diwujudkan melalui jingle iklan atau ikon suara lainnya. Sebagai contoh ketika kita terbang bersama Garuda Indonesia niscaya akan disuguhi lagu-lagu daerah dengan versi instrumentalia. Pada saat Anda sedang jalan-jalan di lantai dasar Solo Grand Mall pasti Anda akan disambut aroma BreadTalk yang begitu harum menusuk hidung, atau mungkin aroma kopi yang kuat ketika kita masuk di Starbuck Coffee, ini yang disebut identitas aroma. Tapi untuk identitas rasa biasanya berkaitan dengan produk makanan atau minuman. Saya contohkan dengan brand lokal, empuknya ceker gudeg Bu Kasno Margoyudan memang tiada duanya dibanding dengan gudeg yang lain. Atau kentalnya susu segar She Jack yang diklaim sebagai pionir minuman susu segar di Solo akan terasa lebih mantap dibanding lainnya. Ini semua dapat dipakai sebagai identitas pembeda dengan brand pesaing dalam produk sejenis. Jadi brand tidak hanya tampil dengan ikon visual, apabila brand produk kita mampu tampil dengan identitas suara, aroma dan rasa yang unik dan relevan maka itu sangat pantas untuk dicoba.

Salam

KADARYATMO
Konsultan Brand & Branding di Solo